The Origin Story of Bare Stapler

Bare Stapler




“Aku hanya seorang manusia biasa , tidak seperti Tuhan yang bisa memaafkan orang lain. Dan aku hanya seorang remaja  yang memiliki keterbatasan dalam hal-Nya kesabaran, amarah, dan lainnya. Tiada maaf bagi kalian yang mempermainkanku seperti membangun mainan kemudian, dihancurkan kembali”

            Disebuah kota metropolitan yang teknologinya dikenal cukup maju, terdapat sebuah hutan. Dan di hutan itu, terdapat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang remaja. Nama remaja itu adalah “Mahiera Aliphson”, atau bisa dipanggil Mahir. Mahir adalah seorang mahasiswi jurusan “Kimia Mesin” di salah satu Universitas yang ada dikota metropolitan tersebut. Kimia Mesin ini merupakan jurusan terbaru namun, peminatnya adalah mahasiswa-mahasiswi dari kalangan kelas atas. Tidak seperti mahasiswa lainnya, Mahir bukanlah orang dari kelas atas tapi, dia masuk melalui jalur undangan.

            Mahir mempunyai seorang teman sekaligus sahabat. Namanya “Radifion Gendra” atau bisa dipanggil “Dion”. Mereka teman satu kampus namun, beda fakultas. Dion adalah mahasiswa jurusan Doktermasi. Setiap harinya, mereka makan dikantin dan mendiskusikan projek mereka masing-masing. Di kelas, Mahir termasuk mahasiswa yang diam-diam tapi aktif , juga sulit untuk bergaul dikelasnya , dan tentunya dia akan menjadi incaran sekumpulan mahasiswa yang tergolong sering menganiaya mahasiswa yang aktif. Kumpulan itu disebut-sebut sebagai “The Rooper” dan Alex sebagai ketua dari kumpulan tersebut dan diikuti beberapa mahasiwa lain , yakini Tina, Coco, Sandi, dan Karin.

            Dua minggu yang lalu, Dosen memberikan tugas berupa projek kepada mahasiswa tapi, Mahir bekerja sendirian seperti biasanya. Projek yang dia ciptakan telah selesai minggu lalu dan dia akan mempresentasikan projek tersebut lusa kedepan. Saat ini Mahir dan Dion sedang berada dikantin seperti biasanya, membahas projek.

“Mahir, projek apa yang kau presentasikan?” tanya Dion dengan bahasa kesehariannya.
“Aku engga tau mau dinamain apa projeknya.”
“kamu mau namain projek-ku engga, Yon?”
“Aku mana tau projek apa yang kau buat, kalau kau tak tunjukkan itu padaku Mahir.”
“Ini …” menunjukkan foto projek.
“Benda apa yang kau buat ini, Mahir? Hekter?” Tanya Dion dengan  herannya.
“Iya, ini hekter tapi, ada pabrik kimia didalamnya. Ada solar panel, DNA scanner, rotor, dan lainnya,” jelas Mahir.
“Bisa ngehekter juga tak, Hir?”
“Ya bisalah, apaan sih kamu, Yon.”
“Oh…Aku kira cuma hekter biasa.”
“Jadi, nama projek ini apa Yon?” tanya Mahir.
“Heh … kau ini. Kasih nama projekpun tak tau. Mini Chemy Factory, kalo aku sih,” jawab Dion.
“Bagus juga... ( Gembel ).”
“Lihat jam ni, dah jam segini ajalah. Aku mau cabut kekelas dulu Hir , kau juga kekelas Hir, jangan cabut terus kau ya ahahahah.”
“Okey…( Gembel ).”

            Ketika  kelas, Mahir ditanya oleh dosennya, projek apa yang dia ciptakan dan dosen itu ingin dia persentasi keesokan harinya.

            “Mini Chemy Factory nama projek saya, Pak ,” jawab Mahir kepada dosennya.

            Di kejauhan,  The Rooper sedang membully seorang kutu buku innocent yang dipanggil Derk . Karin mendengar percakapan antar dosen dan Mahir. Dengan tatatapan tak menyenangkan, Karin langsung member tahu rekan-rekan The Rooper-nya.

            “Guys! Mahir akan tampil besok so, apa rencana jahat kalian?” Tanya Karin
            “Ah! Dosen bego. Mahir,Mahir,Mahir dan Mahir melulu. Nggak ada orang lain apa di kelas ni?!” jawab Tina dengan kondisi sesukanya.

            “Biasa, jenius. Kamu tau itukan, Derk? Hahaha,” sambung Coco.
            “Awas aja kamu bising ya Derk?!” sambung Sandi.
            “Rencana kita? Tentu kita ngerusak presentasi Si Jenius, kalo kamu bro & sis suka, HAHAHAHA!” jawab Alex.
            “Iya…maksud kami ni , kamu tau prosedurnya nggak si , Lex?” tanya Tina.
            “Yoyoy, aku orang ketiga serba tahu kok.”
            “A..apa…aku…boleh..bebas sekarang..?..?” tanya Derk dengan sangat ketakutan.
            “Kali ini kau kami lepaskan, suatu saat mungkin tidak HAHAHAHAHA,” jawab Alex dengan kejamnya.

            Malam harinya, Mahir sedang mempersiapkan projeknya itu dengan penuh semangat namun, dia memiliki firasat buruk buat besok yang menghantui dia sepanjang malam. Sehingga dia kurang tidur.

            Keesokan harinya, rencana The Rooper jelas akan terlaksanakan dengar mulus. Mahir meletakkan projeknya diatas meja yang telas disediakan oleh dosennya di depan kelas, Mahir pun pergi meninggalkan projeknya untuk memanggil dosen. Dalam perjalanannya memanggil dosen,  Coco selaku anggota The Rooper menjalankan tugasnya, yaitu mengambil waktu Mahir sejenak agar anggota The Rooper lain bisa menjalankan rencana mereka.

            “Woi! Anak dosen! Caper mulu kau!” teriak Coco didepan Mahir.
           
            Namun, Mahir tak menghiraukannya, dia focus akan tujuannya, yaitu memanggil dosen. Coco yang diabaikan merasa marah dan,
           
            “Punya telinga nggak ?!” teriak Coco sambil menarik tangan Mahir.
            “Apa yang kau inginkan dari ku?” Mahir menjawab dengan tenang dan santai.

            Karena kehabisan kata-kata dan rencana dia berhasil mengalihkan sedikit waktu, akhirnya Coco melepaskan tangannya Mahir.

Selagi Mahir memanggil dosennya dan Coco dalam perjalanan menuju kekelas, anggota The Rooper laiinya sedang mengkotak-katik projek yang hendak dipresentasikan oleh Mahir. Tentu. Rencana ini diketahui seisi kelas namun, The Rooper member ancaman bagi siapa saja yang merusak rencana mereka maka, nasib yang sama akan terjadi pada mereka.

Sesampainya dosen dan Mahir dikelas, Mahirpun langsung melakukan presentasi. Dia agak keheranan melihat seisi kelas tidak seperti biasanya, dia sempat berpikir bahwa, mungkin ini firasat buruk yang menghantuinya sepanjang malam, padahal tidak.

“Baik, selamat pagi dosen dan teman-teman seisi kelas, aku akan mempresentasikan sebuah projek yang aku ciptakan berhubungan dengan mata kuliah kita. Nama projek ku ini adalah Mini Chemy Factory. Ini hanya sebuah hekter yang aku beli ditoko terdekat dan aku merombaknya agar bisa berguna untuk kepentingan lain. Pabrik Kimia Kecil-kecilan, iya didalam nya terdapat beberapa unsure kimia yang akan dibentuk sebuah senyawa yang kita programkan dan digerakkan dengan DNA scanner terdapat pada hekter. Blablabla …. Pencampuran senyawa pertama adalah X dan Y … “

Dari kejauhan tempat duduk, The Rooper sedang  menjalankan rencana puncaknya, yaitu merekam persentasi  yang akhirnya berujung rencana.

“Dan terakhir, tambahkan XXX Acid. Ini bagian paling berbahaya dalam pencampuran senyawanya, akibat nya bisa fatal”

Detik –detik yang di tunggu The Rooper pun tiba. Saat Mahir menuang XXX Acid,

“Woi!! Tutup seluruh tubuh kalian! Yang di depan buruan lari kebelakang!!” teriak salah satu anggota The Rooper.

Dan saat tetesan Acid itu masuk ke tabung reaksi kimia tersebut…

“DUAAARRR!!!!” suara ledakan dari hasil pencampuran reaksi tersebut yang cukup kuat untuk menggetarkan 1 bangunan fakultas itu.
            “KRIIIINKKK!!!!!!” tanda peringatan dari bel kampus fakultas tersebut agar mahasiswa mahasiswi keluar dari kelas sesegera mungkin.
           
Dion dengan tahunya bahwa, ledakan itu berasal dari projek Mahir yang gagal langsung menuju kelas dimana Mahir berada. Sesampainya disana, Dion meilhat sang dosen sedang sibuk menuntun yang lain untuk keluar kelas namun, dia tak meliahat adanya Mahir. Ketika iya mencoba untuk mencari Mahir kedalam kelas, dosen tersebut tidak mengizinkannya karena terlalu berbahaya didalam sana.

“Sir, izinkan aku mencari Mahir! Aku yakin dia masih didalam sana!” Dion memohon kepada sang dosen,
“Aku sudah memakai baju pelindung dan perlengkapan lainnya, Sir!”

Sang dosen tidak tahu lagi karena sedang mengeluarkan yang lain jadi, Dion menerobos masuk tanpa memperdulikan kata-kata dosen tersebut. Di pun menemukan Mahir yang tergeletak dibawah gumpalan asap beracun.

“Mahir!Mahir! Sadarlah kau!” teriak Dion dengan paniknya sambil mengangkat Mahir keluar kelas.
“Hei ! Sadarlah Mahir! ( sambil memberikannya masker oksigen ).”
“Uhuk!Uhuk!”
“Mahir! Syukurlah kau masih hidup! ( memeluk Mahir kuat-kuat ).”
“Gembel…aku jangan..dipeluk….Uhuk!”
“Maaf, maaf. Ini, minum dulu airnya”
“Yon…apa yang terjadi..?kenapa pandangan ku oren semua?! APA INI?!!” panik Mahir.
“Aku tidak tau, tiba-tiba aku denger ledakan dari kelas kau, Hir.”
“Bukan!Bukan itu maksudku! Kenapa pandangan ku oren semua!!”

Dari kejauhan, tiba-tiba Derk dating dan berkata, “Anu…Mahir, ini semua ulah The Rooper, mereka mengancam kami untuk tidak memberitahu mu, maafkan kami Mahir…”

“Bzzzbzzbzzbz,” bunyi suara getaran hape Dion dan Derk.
“Triittrrit!”
“Line!”
“Ocahpompongtwit-twit!”

Dari segala macam bunyi handphone pun berbunyi dan muncullah video …

“Kali ini, bakal ada peristiwa sejarah dikampus ini, saksikanlah (Menunjukan Presentasi Mahir ).”
“DUAAAAR!!!”
“Krrrinnnkkk!!!”

“Sejarah yang cukup suram, bukan? HAHAHAHAHA” videopun selesai.

            Dion pun kaget melihat video itu, banyak feedback negative terhadap Mahir karena melakukan eksperimen berbahaya di dalam kelas, bukan di laboratorium namun, ada juga yang menyemangati Mahir agar Mahir bisa lebih tenang atas kejadian ini.

            “SIAL!!! Andai aku ada disisi Mahir saat itu!” kesal Dion sambil meninju dinding dilorong.
            “Apa mau The Rooper, kenapa mereka suka membully yang lain? Apa mereka melakukan hal seperti itu untuk kesenangan mereka…,” jawab Derk.

“…Aku akan membawa Mahir pulang ke rumahnya,” sambung Dion.
Tak sadar, seminggu pun berlalu. Dari kejadian yang bisa dibilang cukup membekas bagi Mahir. Sesuatu yang berharga baginya yaitu, indra penglihatannya. Dia tidak buta tetapi, sepasang bola mata yang awalnya dapat melihat dunia yang penuh warna sekarang, hanya warna orange lah yang terlihat. The Rooper, yang tak puas akan hasil pembullyan mereka terhadap Mahir,

“Dosen sana, dosen sini, sama aja. Mahir, Mahir dan Mahir. Tak ada yang lain apa ya?”  tanya Tina akan anggota The Rooper lainnya.
“Ntah lah, dosen-dosen konyol itu pada mikirin Si Bocah Jenius, nggak bosen apa kalian? Mahir mulu yang di perhatiin. Kita nggak?” sambung Karin.
“Kita bawa kejadian ini ke publik, salah kita juga sih,” jawab Sandi.
“Ya, Mahir pastinya senang dong, diperhatiin terus, dikasihani, makin caper dia nya. Kalian nggak sadar apa? Kalo dia dah terkenal kaya gini, dia bakalan berani sama kita trus, aku tak tau apa lagi yang terjadi,” balas Tina.
“Kamu nggak ada rencana lagi po? Buat nyingkirin Mahir selama-lamanya dari kampus ini,  Lex?” tanya Coco kepada Alex.
“Shit!! Ini rencana tergila yang muncul tiba-tiba, jenius sekali saia, HAHAHAHA,”  ketawa Alex dengan sombongnya.
“So, apa rencananya, Lex?” tanya Karin.
“Kita lakuin ini di hutan kota, tapi ingat! Ini rencana gila jadi, jangan sampe gagal” jawab Alex yang rencananya belum bisa tertebak oleh rekan anggotanya.

Di Sore harinya, Dion sedang  menjenguk Mahir untuk memastikan keadaannya tidak begitu buruk.

“Hei…Kau, Mahir. Gimana keadaan kau..mu? tanya Dion.
“Aku tidak tau, yang jelas penglihatanku ini rusak permanen akibat dari XXX Acid yang gagal ter-reaksi.”
“Untung kau..mu tak berdarah.”
“Apa?! Darah?! Serius? Jangan gitu lah Dion. Aku takut darah.”

Dion pun menjawab, “Tidak-tidak, bukan apa –apa.”

Mahir menderita Hemophobia. Sudah bawaannya sejak dia masih duduk dibangku SMP. Kejadian saat dia sedang mengiris ikan mentah dan tak sengaja darah ikan itu terciprat ke tubuh dan wajahnya.  Yang tragisnya, darah ikan itu tak sengaja masuk kedalam mulutnya, tentu rasanya tidak enak dan bikin rasa mual muncul. Dan semua orang tahu bahwa dia menderita Hemophobia.

Dion pun berkata, “Hmm… btw, sekarang aku lagi membuat obat buat kau..mu. Sekarang masih 50 % jadi, tolong ya ditunggu?”

“Memangnya kamu tau apa, kerusakannya, Yon?”
“Yup! Aku sempat periksa kau..mu waktu itu Hir, makanya aku tau hahahahha.”
“Yayaya , dasar Doktermasi. Blum ditanyain udah pada tau aja.”
“Dasar kau ini. Yasudah, kau..mu istirahat sana, aku mau balik dulu. Jaga kesehatan ya Hir dan …”
“Ahh! Iya-iya , pulang lah.”

            Dan akhirnya, Dion pulang dan Mahir menutup pintu rumahnya namun, beberapa saat setelah Mahir menutup pintu, datanglah dua anggota The Rooper yaitu, Tina dan Coco. Tentunya, untuk menjalankan rencana jahat mereka.

            “Tok!Tok!Tok!” suara ketukan dibalik pintu.
            “Iya, siapa? Dan perlu apa?” tanya Mahir sambil membuka pintu.
           
            Dan ternyata dibalik pintu adalah The Rooper. Awalnya kaget melihat mereka datang namun,
            “Mahir! Maafkan kami…kami kira hal itu tak membahayakan kamu, Hir” Tina berkata dengan penuh basa-basi.
            “Iya, mohon diterima permintaan maaf kami, sebagai gantinya kami telah membuat pesta permintaan maaf kami buat kamu, Hir” sambung Coco.
            “Kamu mau datang kan, Hir ? Ini pesta buat kamu juga…” sambung Tina.
            “Aku tidak tahu…jika niat kalian itu baik maka, okelah” jawab Mahir tanpa berpikir panjang.
            “Okelah kalo begitu, kami tunggu kamu malam ini jam 7 dihutan kota, terima kasih banyak atas partisipasinya, Mahir :) ( Fake Smile ),” balas Tina.

            Diwaktu yang bersamaan, saat Tina dan Coco keluar dari pintu,dari kejauhan, Derk hendak berkujung kerumah Mahir dan,
           
            “Hahaha,  akhirnya terjatuh kelubang juga tuh anak!”
            “Tapi tunggu dulu , Co . belum tentu dia datang.”
            “Ya semoga aja dia datang.”

            Derk tak sengaja mendengar percakapan itu. Dia ingin memberi tahu Mahir namun, anggota The Rooper masih disana. Dan dia bakal tahu jika dia macam-macam maka, dia tahu akibatnya. Cara lainnya, dia menjauhi tempat itu dan mencoba untuk menghubungi Dion secepat mungkin.

            Malam harinya di pesta permintaan maaf The Rooper, Mahir diberikan kursi spesial khusus buat dia duduki. Dan diatas meja Mahir terdapat banyak makanan mewah yang telah disajikan. Mahir tentunya kaget akan hal ini. Yang bodohnya dia langsung hanyut akan suasana tersebut.

            “MAAFKAN KAMI MAHIR!!!” teriak The Rooper dengan kerasnya.         
            “Wah… kalian kenapa harus repot-repot seperti ini, hanya minta maaf saja sudah cukup, kok,” terpaku Mahir, ucapan The Rooper.
            “Jangan begitu, karna kesalahan kami kamu jadi punya sakit permanen…,” ucap Karin dengan kata-kata manisnya yang membunuh.
            “Apa kau sudah menikmati pestanya, Mahir?” tanya Alex.
            “Oh iya, trimakasih banyak ya, kalian semua baik. Tadi awalnya aku berniat tidak datang… karena takut terjadi hal yang sama…maafkan aku berprasangka buruk,” jawab Mahir dengan polosnya.
            “Tidak apa-apa, terkadang berprasangka buruk itu memang diperlukan, HaHAHAA!!” balas Alex.

            Tiba-tiba kursi yang Mahir duduki pun bergerak dengan sendirinya ke arah salah satu batang pohon, kemudian mengikat Mahir dengan sangat erat.

            “Apa-apaan ini?! Lepaskan aku! Tolong!!” teriak Mahir dengan paniknya.
            “Bukan apa-apa, Cuma… kami mau menyingkirkan kamu dari kampus . Dengan kata lain, jangan pernah kembali ke kampus untuk selama-lamanya.”
           
            Mereka pun mulai menganiaya Mahir dengan sangat berlebihan. Awalnya disiram dengan darah ikan, karena mereka tahu kelemahan Mahir adalah darah. Mahir tidak tahu kalau benda yang disiram tadi adalah darah, dia hanya tahu itu baunya amis. Ketika salah satu dari mereka menyiram mahir dengan Orange juice, Mulailah phobia Mahir muncul. Karena pandangan Mahir seketika normal saat disiram Orange juice. Dan Alex pun berkata,

            “Berani lagi nggak lo datang ke kampus?! HAHAHA awas aja!”
            “Fare Well ya Mahir! HAHHAAHA.”
           
            Dengan tubuh yang berlumuran darah serta bergetar akan ketakutannya terhadap darah, Mahir syok tingkat dewa. Derk yang sedang mencoba dari tadi untuk menghubungi Dion, baru bisa tersambung.

            “Yon! Gawat! Mahir dalam bahaya ni. Aku dari tadi coba hubungi kamu tapi, nggak tersambung-sambung!” teriak Derk dengan panik.
            “Ada apa Derk?! Apa yang terjadi pada Mahir? Aku sedang membuat obat untuknya, Ini tinggal 98% lagi jadi,” balas Dion.
            “Kamu buruan ke hutan kota, disana Mahir sedang dibully lagi, cepat Yon!cepat!”

            Dion bergegas pergi ke hutan kota secepatnya dan setiba disana, dia melihat Mahir yang sedang terikat di batang pohon dengan tubuh berlumuran darah segar.

            “MAHIR!! Jawab aku, apa yang terjadi?!!”
            “…Fare Well?..”
            “Mahir, jawab aku. Ini ulah The Rooper?”
            “Oh..Jadi kalian beneran mau Fare well? Baiklah juka itu mau kalian HAHAHAHA!!!”
            “Mahir…apa yang terjadi pada mu?” tanya Dion sambil melepas tali ikatan pada Mahir.
            “Fare Well…HAHAHHAA….Fare Well PARTY!!”

            Mahir langsung berdiri tanpa melihat Dion atau keadaannya yang sekarang, dia hanya terus berjalan dan tertawa terus menerus. Dion takut untuk berkata lebih lanjut kepada Mahir, sehingga dia diam saja dan memperhatikan Mahir yang berjalan menjauhinya.

            Menuju perjalan pulang, Mahir hanya tertawa terus menerus. Tertawa dalam tanpa kutip, “Evil Laugh,” ketika sudah sampai di depan pintu rumahnya, Mahir berhenti tertawa dan lanjut berlari ke Lab yang ada didalam rumahnya. Dia mengingat kembali kecerobohan The Rooper saat itu dan itu sangat menguntungkan bagi Mahir

            “Orange juice ? oren ? ( coba melihat dengan benda transparan beewarna oren ).”
            “Oh..Akhirnya ku temukan juga kau , cure ! HAHAHAHAHA!”

            Dari situ lah Mahir menemukan Alternatif untuk penglihatannya, menciptakan kacamata khusus dengan lensa berwarna oren. Setelah iya menemukan kacamata itu, dia berniat untuk membalas dendam kepada The Rooper dengan mencoba eksperimen yang pernah gagal dia lakukan dikelas yaitu, Mini Chemy Factory atau MCF.

            “XXX Acid kali ini tak akan gagal!HHAHAHA! (mencampurkan XXX Acid dengan senyawa lainnya).
            “Buff…”
            “AKHIRNYA!! HAHAHA! INI YANG TERBAIK!!”
            “Tapi .. ini hanya hekter… jadiin weapon aja kali ya ha.ha.ha.”
           
            Mahir mengubah Mini Chemy Factory menjadi senjata, senjata yang berbahaya demikian.

            “Rencana selanjutnya…Fare Well PARTY FOR THE ROOPER KYAHAHA!!”

            Memulai rencananya, Mahir mengirim invitation untuk The Rooper melalui Tina dan,

            “Fare Well Party for ever and ever. Tomorrow, 3 am at Pine Forest, see you there. Oh … dia mau ngadain pesta buat ninggalin tempat ini? Oh,bagus lah,” jawab Tina.
           
            Tina mem forward pesan dari Mahir ke anggota The Rooper lainnya, “Fare Well Party for ever and ever. Tomorrow, 3 am at Pine Forest, see you there. Gimana respon kalian nih? Datang nggak ? tegar amat dia, udah digituin masi aja.”
            “Datang aja Tin, tapi kalo pestanya amburadul , kita labrak aja tuh anak lagi hahahah!” balas Alex dalam text message

Yang lainnya pada menjawab, “Oke.”

Keeosakan harinya, The Rooper-pun berkumpul di lorong-lorong kampus kelasnya, membahas akan Fare Well Party nya Mahir dan, Derk mendengar itu. Dan sesegera mungkin iya menghubungi Dion.

“Aduh , Dion susah amat dihubungin. Gimana ini .. kalo ada apa apa pasti bisa gawat!” panic Derk yang gagal menghubungi Dion.

Malam menjelang pagi pun tiba. Jarum jam menunjukkan jam 3 pagi dan The Rooper pun bergegas pergi. Mahir sudah menyiapkan segalanya untuk melacarkan rencananya.di tempat lain, Dion terbangun karena dihantui mimpi yang amat sangat buruk.

“Ha!! Apa apaan mimpi tadi, heh? (melihat HP dan membaca pesan Derk) HA?! Jam 3 ini ? yang bener aja tu Mahir.”

Karena kaget, Dion langsung meloncat dari kasur tidurnya dan bergegas untuk pergi kepesta itu. Di hutan pinus, tiba lah The Rooper ke pesta tersebut dan,

“Apa-apaan ini? Cuma balon, minuman, kue tart doang?! Nggak becus amat tuh anak!” jawab Sandi dengan kesal.
“Mana kau, Mahir! Tunjukan diri mu! Fare Well Party apaan ini, gembel!” lanjut Karin.

Dari balik pohon terdengarlah suara tepukan tangan,

“Plok!Plok!Plok!Plok!”
“Oh..maafkan aku teman teman yang aku cintai, terima kasih sudah datang ke … “
Sandi pun memotong pembicaraan Mahir, “Ah! Gembel kau ! pesta gaje kaya gini , nggak mutu juga sambutan kau kampret!”
“Cih..(berlari dengan cepat menuju salah satu anggotaThe Rooper).”

Pesta ini bukan pesta yang dibuat dengan cuma-cuma namun, pesta ini merupakan perangkap. Seperti  sarang laba-laba, sekali terjerat , ya terjerat. Kalau terus meronta-ronta hanya memperburuk keadaan. Mahir dengan cepatnya menyandra Tina,

“Lepaskan aku dasar gila!!!” panik Tina.
“Tina!! Dasar kau Mahir!! Lepaskan Tina!!” lanjut Sandi mencoba memukul Mahir.

Mahir mengelukarkan MCF dari sakunya,

“AH! Hanya Hekter doang aku nggak takut!” jawab Tina dengan santainya.
“Cih.. meremehkan hekter ku? (menembakkan isi hekter kearah Sandi).”
“Pltass!!”
“ARRGGHH!!” teriak Sandi dengan kesakitannya.
“Apa ini… ini cum..a hek.ter.. ta..ta..tapi..ha….”
“….. (dengan mulut berlumuran darah dan tak sadarkan diri).”
“SANDI!!!”  The Rooper pun panik dan mencoba untuk kabur dari pesta itu namun,

“Aku harus lari dari tempat ini,” bilang Karin dalam hati.
“Mau kabur kemana hayo??HAHAHAHA!!”
“Pletas!pletas!”
“Aduh!..nggak sakit. HAHAHA hekter-mu payah!” jawab Karin
“Ha!! Ada apa dengan kakiku?! Ahh!! Tidak!!” kaget Karin karena kakinya melebur dengan hingga akhirnya tersisa hanya rambutnya saja.

Ketika Coco hendak menyelamatkan Tina, tiba-tiba Mahir menghadangnya.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya , Mahir?!” tanya Tina dengan ketakutan.
“Mahir? Siapa itu Mahir?Hah… kalian sudah menyebutku berkali-kali,” jawab Mahir.
“Pletas!”
“TINAAAA!!!Ah! sial dasar MAHIR BODOH!!! HYAA!” teriak Coco dengan penuh Amarah.
“Sudah ku bilang , aku bukan MAHIR! Aku BARE STAPLER (hanya pengstaples/ penghekter)!” jawab Mahir.

 Karena kesalnya di panggil dengan nama Mahir , dia menembaki Tina tiga kali dengan senyawa yang berbeda. Jelas, Tina sudah tak bernyawa lagi dan Mahir sudah tidak waras lagi.

“Ini buat kamu , COCO.. HAHAHAHA!”
“Pletas! (menembakkan senyawa yang mudah terbakar).”
“TIDAAAKKK!!!AAARRGGHH!” teriak Coco sampai mati.

“Khukhukhu…sekarang tinggal kau seorang,ALEX!!! bagus bukan Fare Well Party nya? Benar benar kita bakalan Fare Well selama-lamanya KYAKYAKAYAAKAYKYA!!”  Evil laugh Mahir.

Dari kejauhan, datanglah Dion dengan membawa obat cure 100% buat Mahir dan,

“MAHIR!! Apa kau tidak apa..ap..pa…”

Tentunya Dion kaget dan langsung terdiam, melihat beberapa anggota The Rooper sudah tidak memiliki nyawa lagi dan ketika iya melihat Mahir yang sedang mengarahkan hekternya ke Alex,

 “Maafkan aku! Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi!Lepaskan aku Mahir! Aku mohon jangan bunuh aku Mahir!” memohon Alex kepada Mahir.
“Hmm..baiklah..mungkin aku akan memaafkanmu.”
“Benarkah?!!”
“Dan mungkin aku akan melepaskanmu.”
“Syukur lah,” jawab Alex dalam hati.
“MELEPASKAN JIWAMU DARI TUBUHMU! KAYKAYKAYAKYAKYAAYAKYA!!”
“TIDAAAAK!!!”
“Pletas!”
“Oh..dan sekali lagi, aku bukan MAHIR tapi, Bare Stapler. Ingat itu.”
“….”

Dion hanya terdiam dan terduduk, yang dia pikirkan apakah dia akan mati mengenaskan seperti yang lain. Mahir datang mendekati Dion.

“Jangan bunuh aku, Bare Stapler! (sambil menutup mata),” berkata Dion.

Tanpa panjang lebar, Mahir menodong hekternya ke arah Dion dan dia pun berdiri,

“Bare Stapler , Aku mohon…”
“Dion…(Dalam hati).”

Tiba-tiba, Mahir memeluk Dion tanpa berkata-kata lagi,

“Mahir…,” terkejut Dion karena dipeluk Mahir.
            “… (melepaskan pelukannya).”

            Mahir langsung berjalan tanpa melihat kebelakang lagi dan menghilang tanpa jejak. Dan pada akhirnya, Dion hanya menyesali tindakannya,

            “ Jika aku selalu disisinya … ini nggak bakalan terjadi padamu, Mahir..”


---------------------------------------------***************-------------------------------------------

BERITA


Dua bulan kemudian, diperingatkan agar berhati-hati jika keluar karena, jika berjumpa seseorang yang memakai jubah hitam, kacamata berlensa orange dan tentunya, membawa hekter maka itulah , BARE STAPLER.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengingat 3 tahun bersama " B'Lovers "

TERTEKAN